Jejak Joop Ave di Keraton Solo: Ada Kisah Besar di Balik Pembangunan Kembali Sasana Hondrowino

Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:31 WIB
Joop Ave
Joop Ave (Foto: wikimedia commons)

 

SURAKARTA, RIWARA.id — Nama Joop Ave selama ini lebih banyak dikenal dalam sejarah pemerintahan Orde Baru sebagai diplomat, pejabat protokol, Direktur Jenderal Pariwisata, hingga Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.

Namun, ada jejak lain yang tidak banyak diketahui publik: keterlibatan Joop Ave dalam rangkaian upaya menghidupkan kembali Sasana Hondrowino, salah satu bangunan penting di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang terbakar dalam kebakaran besar pada 31 Januari 1985.

Catatan sejarah Keraton Surakarta yang dihimpun Riwara.id pada Selasa, 11 Agustus 2026, dari berbagai catatan sejarah Keraton Surakarta, serta keterangan sejarah yang disampaikan kepada Riwara.id oleh KPH Eddy Wirabhumi dan GKR Koes Moertiyah Wandansari, putri Sri Susuhunan Paku Buwono XII (PB XII), memperlihatkan adanya rangkaian panjang di balik pembangunan kembali Sasana Hondrowino atau Sasana Handrawina.

Kisah tersebut mempertemukan sejumlah nama penting pada masanya: Paku Buwono XII, Presiden Soeharto, Joop Ave, KPH Eddy Wirabhumi, GKR Koes Moertiyah Wandansari, hingga sejumlah perusahaan dan tokoh yang ikut mendukung pembangunan.

Di tengah kisah itu, Sasana Hondrowino bukan sekadar bangunan yang dibangun kembali setelah terbakar. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang pelestarian warisan budaya Keraton Surakarta sekaligus pengembangan pariwisata Indonesia pada era Orde Baru.

Joop Ave, Pejabat Sipil yang Dekat dengan Lingkar Istana

Joop Ave merupakan salah satu pejabat sipil yang memiliki perjalanan karier panjang di pemerintahan Orde Baru.

Ia mengawali karier sebagai penyusun program sekaligus penyiar bahasa Prancis di RRI Pusat Jakarta pada 1957. Pada tahun yang sama, ia kemudian bergabung dengan Departemen Luar Negeri.

Karier diplomatik membawanya ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York pada 1967. Setelah itu ia menjalani sejumlah penugasan diplomatik, termasuk sebagai Sekretaris I pada 1970 dan Konsuler pada 1972.

Kariernya kemudian semakin dekat dengan pusat kekuasaan.

Joop Ave dipercaya menjadi Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan pada 1972–1978. Pengalaman tersebut membuatnya terlibat dalam berbagai kegiatan protokol kenegaraan dan berada dekat dengan Presiden Soeharto.

Ia dikenal memiliki kemampuan berbahasa asing dan pengalaman diplomatik yang kuat. Kemampuan tersebut kemudian menjadi modal penting ketika ia dipercaya menangani bidang protokol sekaligus pariwisata.

Pada 1978–1982, ia menjabat sebagai pejabat di bidang Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri. Pada 1982, ia dipercaya menjadi Direktur Jenderal Pariwisata.

Kariernya mencapai puncak ketika pada 17 Maret 1993 ia dilantik sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dalam Kabinet Pembangunan VI.

Joop Ave menjadi menteri sipil pertama yang memimpin bidang pariwisata setelah sebelumnya posisi tersebut diisi tokoh berlatar belakang militer.

Namun, jauh sebelum menjadi menteri, namanya sudah memiliki hubungan dengan lingkungan Keraton Surakarta.

Dari Lingkar Istana ke Keraton Surakarta

Kedekatan Joop Ave dengan lingkungan kekuasaan Orde Baru juga bersinggungan dengan hubungan keluarga Presiden Soeharto dengan lingkungan Mangkunegaran.

Joop Ave kemudian memperoleh gelar kebangsawanan Raden Mas Kanjeng Haryo Condronegoro dari Mangkunegara VIII.

Pemberian gelar tersebut tidak dapat dilepaskan dari hubungan Ibu Tien Soeharto dengan trah Mangkunegaran.

Dalam perjalanan berikutnya, Joop Ave juga menjadi salah satu pejabat yang bersentuhan langsung dengan persoalan pelestarian Keraton Surakarta, terutama setelah kebakaran besar yang melanda kompleks keraton pada 1985.

Di sinilah cerita mengenai dirinya dan Sasana Hondrowino menjadi penting.

Malam 31 Januari 1985, Api Melanda Keraton Surakarta

Malam 31 Januari 1985 Api Melanda Keraton Surakarta
Malam 31 Januari 1985 Api Melanda Keraton Surakarta (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Malam 31 Januari 1985 menjadi salah satu malam paling kelam dalam sejarah modern Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kebakaran besar melanda kompleks keraton.

Api yang mulai terlihat pada malam hari kemudian membesar dan menjalar ke sejumlah bangunan. Upaya pemadaman berlangsung berjam-jam.

Salah satu persoalan yang dihadapi ketika itu adalah akses menuju sejumlah bagian keraton. Kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat bergerak secara leluasa karena struktur pintu dan kori keraton.

Bangunan-bangunan yang menggunakan banyak unsur kayu membuat api semakin cepat merambat.

Sejumlah bangunan penting terdampak, termasuk Sasana Sewoko, Sasana Hondrowino, Sasana Parasdyo, Paningrat, Dalem Ageng Proboyosono, Kamar Pusoko, Bangsal Malige dan Singgasana Raja.

Bagi Keraton Surakarta, kehilangan tersebut bukan hanya persoalan fisik.

Bangunan-bangunan itu merupakan bagian dari ruang hidup tradisi, upacara, penerimaan tamu dan perjalanan sejarah Keraton.

Sasana Hondrowino, Ruang untuk Tamu Kehormatan

Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan Presiden Soekarno dan para pejabat pemerintah Republik Indonesia di Sasana Handrawina Keraton Surakarta sekitar awal tahun 1946 Tampak duduk di sebelah susuhunan adalah Adipati Mangkunegara VIII dan RP Soeroso
Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan Presiden Soekarno dan para pejabat pemerintah Republik Indonesia di Sasana Handrawina Keraton Surakarta sekitar awal tahun 1946 Tampak duduk di sebelah susuhunan adalah Adipati Mangkunegara VIII dan RP Soeroso (Foto: John Florea / The LIFE Picture Collection)

 

Sasana Hondrowino memiliki kedudukan khusus dalam lingkungan Keraton Surakarta.

Bangunan tersebut memiliki fungsi sebagai tempat menerima dan menjamu tamu kehormatan dalam berbagai kegiatan resmi Keraton.

Dalam perjalanan sejarahnya, Sasana Hondrowino pernah menjadi tempat berbagai kegiatan penting.

Bangunan itu juga pernah digunakan untuk menerima sejumlah tamu dan kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan, diplomasi serta pariwisata.

Karena itu, ketika Sasana Hondrowino terbakar, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan dengan konstruksi kayu dan ornamen tradisional.

Yang ikut hilang adalah salah satu ruang yang menjadi bagian dari sejarah hubungan Keraton Surakarta dengan dunia luar.

Kebakaran dan Dugaan Arus Pendek

Sasana Handrawina Kebakaran dan Dugaan Arus Pendek
Sasana Handrawina Kebakaran dan Dugaan Arus Pendek (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Catatan sejarah yang dihimpun Riwara.id juga mencatat dugaan mengenai penyebab kebakaran.

Kebakaran disebut diduga berkaitan dengan arus pendek listrik.

Salah satu dasar dugaan tersebut adalah kondisi kabel listrik yang sudah rapuh dan berpotensi menimbulkan percikan.

Namun, penggunaan istilah “diduga” tetap penting dalam penulisan sejarah ini. Sebab, keterangan tersebut merupakan catatan mengenai dugaan penyebab kebakaran, bukan dasar untuk menyatakan penyebab secara mutlak.

Yang jelas, akibat kebakaran tersebut, sejumlah bangunan Keraton harus melalui proses panjang untuk dipulihkan.

Pembangunan Kembali Dimulai, tetapi Sasana Hondrowino Belum Selesai

Pasca kebakaran, upaya pembangunan kembali sejumlah bagian Keraton dilakukan secara bertahap.

Beberapa bangunan berhasil dibangun kembali dan kemudian diresmikan pada 17 Desember 1987.

Namun, perjalanan Sasana Hondrowino berbeda.

Pembangunan kembali bangunan tersebut belum dapat diselesaikan secara menyeluruh.

Pada tahap awal, pekerjaan baru menyentuh bagian pondasi dan lantai.

Upaya penggalangan dana juga dilakukan, tetapi belum mampu menyelesaikan seluruh kebutuhan pembangunan.

Waktu terus berjalan.

Memasuki pertengahan 1990-an, kebutuhan untuk menghidupkan kembali Sasana Hondrowino semakin besar.

Keraton Surakarta tidak hanya dipandang sebagai pusat tradisi dan budaya, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata budaya.

Kegiatan penerimaan tamu, jamuan, pertemuan dan kegiatan pariwisata membutuhkan ruang yang memadai.

Sasana Hondrowino kemudian kembali menjadi perhatian.

Jejak Joop Ave dalam Pembangunan Kembali

Pembangunan Kembali Sasana Handrawina
Pembangunan Kembali Sasana Handrawina (Foto: Rama, Dok. LDA Karaton Surakarta)

 

Menurut catatan sejarah yang dihimpun Riwara.id dan keterangan sejarah yang diberikan kepada Riwara.id, proses pembangunan kembali Sasana Hondrowino kemudian kembali bergerak melalui komunikasi dengan pemerintah pusat.

KPH Eddy Wirabhumi dan GKR Koes Moertiyah Wandansari menjadi bagian penting dalam penuturan sejarah mengenai proses tersebut kepada Riwara.id.

Nama Joop Ave kemudian muncul dalam rangkaian pembicaraan pembangunan kembali.

Pada masa itu Joop Ave menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.

Pertemuan dan komunikasi mengenai pembangunan kembali Sasana Hondrowino kemudian menghasilkan penyusunan proposal pembangunan.

Nilai proposal awal disebut mencapai sekitar Rp5,3 miliar.

Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan untuk menghidupkan kembali bangunan bersejarah tersebut.

Soeharto dan Skema Pembangunan Tanpa APBN

Dalam rangkaian sejarah tersebut, Presiden Soeharto memberikan perhatian terhadap upaya pembangunan kembali bagian-bagian Keraton Surakarta yang terdampak kebakaran.

Salah satu hal penting adalah pola pendanaan.

Pembangunan tidak diarahkan semata-mata melalui anggaran negara.

Sebaliknya, dukungan diberikan melalui kepanitiaan dan penggalangan dukungan dari para donatur.

Di sinilah posisi Joop Ave menjadi penting.

Sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, ia berada pada titik pertemuan antara kepentingan pelestarian budaya, pariwisata dan kebijakan pemerintah.

Joop Ave kemudian ikut mengoordinasikan proses yang melibatkan pemerintah, Keraton dan pihak-pihak yang bersedia memberikan dukungan.

Dengan skema tersebut, pembangunan kembali Sasana Hondrowino tidak hanya menjadi proyek pemerintah.

Ia berkembang menjadi sebuah proyek bersama yang melibatkan banyak unsur.

Dari Proposal Rp5,3 Miliar Menjadi Rp3,6 Miliar

Rencana pembangunan kemudian dikaji lebih lanjut.

Para pihak yang mendukung proyek tersebut diminta melakukan kajian mengenai kebutuhan teknis dan pembiayaan.

Hasil kajian kemudian membuat nilai pembangunan yang direkomendasikan berubah.

Dari proposal awal sekitar Rp5,3 miliar, kebutuhan pembangunan kemudian direkomendasikan sekitar Rp3,6 miliar.

Perubahan angka tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kembali Sasana Hondrowino melewati proses perencanaan dan penghitungan ulang.

Bangunan tidak sekadar dibangun kembali dengan meniru bentuk lama.

Ada kebutuhan untuk memperkuat konstruksi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan fungsi bangunan pada masa itu.

Kayu Jati dari Hutan Keraton dan Jawa Tengah

GKR Koes Moertiyah Wandansari dalam proses penebangan kayu di kawasan Alas Krendowahono yang digunakan untuk pembangunan Sasana Hondrowino.
GKR Koes Moertiyah Wandansari dalam proses penebangan kayu di kawasan Alas Krendowahono yang digunakan untuk pembangunan Sasana Hondrowino. (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

 

Salah satu bagian paling menarik dari pembangunan kembali Sasana Hondrowino adalah persoalan material.

Bangunan tersebut mempertahankan karakter arsitektur Jawa dan membutuhkan kayu jati dalam ukuran serta kualitas tertentu.

Kayu menjadi bagian penting karena konstruksi tradisional Keraton sangat bergantung pada material tersebut.

Dalam proses pembangunan, kebutuhan kayu kemudian dipenuhi dari sejumlah wilayah hutan di Jawa Tengah.

Salah satu bagian dari catatan sejarah yang dihimpun Riwara.id juga memperlihatkan bagaimana GKR Koes Moertiyah Wandansari terlibat dalam proses penebangan kayu yang kemudian digunakan untuk pembangunan Sasana Hondrowino.

Kayu tersebut diambil melalui proses yang berkaitan dengan tradisi dan tata cara yang berlaku.

Peristiwa tersebut kini menjadi bagian dari dokumentasi visual sejarah pembangunan kembali Sasana Hondrowino.

KPH Eddy Wirabhumi dan Proses Pemilihan Kayu

KPH Eddy Wirabhumi menantu Paku Buwono XII bersama Paku Buwono XIII ketika melakukan pengecekan terhadap kayu yang akan digunakan sebagai bagian dari konstruksi Sasana Hondrowino
KPH Eddy Wirabhumi menantu Paku Buwono XII bersama Paku Buwono XIII ketika melakukan pengecekan terhadap kayu yang akan digunakan sebagai bagian dari konstruksi Sasana Hondrowino (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Foto sejarah lain yang dihimpun Riwara.id memperlihatkan KPH Eddy Wirabhumi, menantu Paku Buwono XII, bersama Paku Buwono XIII ketika melakukan pengecekan terhadap kayu yang akan digunakan sebagai bagian dari konstruksi Sasana Hondrowino.

Kayu tersebut dipersiapkan untuk kebutuhan saka guru, bagian penting dari struktur bangunan tradisional Jawa.

Saka guru bukan sekadar elemen konstruksi.

Dalam arsitektur tradisional Jawa, empat tiang utama tersebut memiliki kedudukan penting dalam menopang struktur bangunan sekaligus memiliki makna simbolis.

Karena itu, pemilihan kayu untuk saka guru menjadi bagian penting dari proses pembangunan kembali.

Foto tersebut menjadi salah satu bukti visual yang memperlihatkan bahwa pembangunan Sasana Hondrowino melibatkan proses panjang sejak pemilihan material hingga pembangunan fisik.

Tradisi dan Teknologi Modern Bertemu

Pembangunan kembali Sasana Hondrowino Nopember 1986 - Desember 1987
Pembangunan kembali Sasana Hondrowino Nopember 1986 - Desember 1987 (Foto: Ir Sri Adhyaksa)

 

Pembangunan kembali Sasana Hondrowino juga memperlihatkan bagaimana tradisi dan teknologi modern bertemu.

Bentuk dasar bangunan tetap mempertahankan karakter arsitektur Keraton.

Namun, beberapa unsur teknis diperkuat.

Pondasi diperbaiki.

Struktur kayu diperkuat.

Sistem sambungan mendapatkan penguatan.

Sementara kebutuhan kenyamanan modern juga mulai diperhitungkan.

Sistem pendingin ruangan, misalnya, disiapkan untuk menyesuaikan bangunan dengan kebutuhan kegiatan modern.

Furniture juga disesuaikan dengan kebutuhan penerimaan tamu dan kegiatan yang lebih besar.

Dengan demikian, pembangunan kembali bukan sekadar membuat replika bangunan lama.

Tujuannya adalah mengembalikan fungsi historis bangunan sekaligus membuatnya tetap dapat digunakan pada zaman yang berbeda.

Dunia Usaha Turut Menopang

Karena pembangunan tidak semata-mata menggunakan anggaran negara, dukungan pihak swasta menjadi penting.

Sejumlah perusahaan dan tokoh kemudian ikut memberikan dukungan.

Nama-nama perusahaan dari berbagai sektor tercatat dalam rangkaian sejarah pembangunan kembali Sasana Hondrowino.

Keterlibatan dunia usaha menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya pada masa tersebut tidak hanya dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah atau Keraton.

Ada pula kesadaran dari kalangan dunia usaha untuk ikut menjaga bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Di tengah proses tersebut, Joop Ave menjadi salah satu pejabat yang memiliki posisi strategis dalam menghubungkan agenda pariwisata pemerintah dengan pelestarian Keraton.

Joop Ave dan Persimpangan Sejarah Pariwisata dengan Keraton

Bagunan Sasana Hondrowino di dalam komplek Keraton Surakarta Hadiningrat
Bagunan Sasana Hondrowino di dalam komplek Keraton Surakarta Hadiningrat (Foto: Dok. KRT. Sulistyo Wartonagoro)

 

Jika melihat perjalanan kariernya, keterlibatan Joop Ave dalam pembangunan kembali Sasana Hondrowino sebenarnya memiliki kaitan erat dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebagai pejabat pariwisata, Joop Ave melihat kebudayaan sebagai bagian penting dari kekuatan pariwisata Indonesia.

Keraton Surakarta memiliki posisi strategis dalam konteks tersebut.

Ia bukan hanya peninggalan sejarah.

Keraton juga merupakan ruang hidup kebudayaan Jawa yang memiliki daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri.

Sasana Hondrowino sendiri pernah digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan yang berkaitan dengan dunia internasional.

Menghidupkannya kembali berarti memulihkan salah satu ruang yang dapat mempertemukan budaya Jawa, diplomasi, sejarah dan pariwisata.*

 

Catatan sejarah Keraton Surakarta yang dihimpun Riwara.id mengungkap jejak Joop Ave dalam pembangunan kembali Sasana Hondrowino setelah kebakaran besar Keraton Solo 1985.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories